H4vzah's Blog

Just another WordPress.com weblog

TEORI EVOLUSIONER DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA May 9, 2010

Filed under: Uncategorized — h4vzah @ 8:35 am

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dalam undang-undang Republik Indonesia (Nomor 20 tahun 2004) tentang sistem Pendidikan Nasional, arah pendidikan pada Bab II pasal 3 sebenarnya sudah secara eksplisit menguraikan tujuan membangun manusia holistik:
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradapan bangsa yang bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab.”. Salah satunya adalah pembelajaran evolusioner. Terdapat beberapa karakteristik atau fitur sistem pembelajaran evolusioner yang membuatnya berbeda dari sistem pembelajaran yang umum kita anut pada saat ini, antara lain:
Memberikan proritas tinggi kepada kerja sama, karena kerja sama menawarkan tumbuhnya gagasan dan bahkan sumber daya baru (emerging resource) yang sifat terbaharukan. Pendekatan ini merupakan jawaban terhadap konsep “individualisme dan kompetensi” yang dalam banyak kasus tidak memberikan solusi optimal terhadap masalah-masalah sosial kemasyarakatan.
Berkaitan dengan pendekatan kerja sama ini, Banathy (1987)
Merekomendasikan pengembangan kompotensi berinteraksi dalam kelompok kerja sama sebagai metode utama dalam pembelajaran evolusioner. Ia bahkan menambahkan bahwa pendidikan semestinya berhenti mengajarkan kompetensi dan memperkenalkan kerja sama. Kajian yang dilakukan Danah Zohar (2000) menunjukkan bahwa dialog antara beberapa orang sering mampu menggali pendapat yang tak terduga yang merupakam solusi cerdas yang hampir tidak mungkin diperoleh dengan hanya berupaya memecahkannya sendirian. Ini sejalan dengan temuan Maxwell (2003) bahwa keterampilan berpikir dan berbagai pikiran dengan orang lain (shared thingking) akan memberikan kita berbagai masukan yang diperlukan untuk mendapatkan hasil yang baik.
Sering kita mendengar sepuluh kepala lebih baik dari satu kepala. Karena memang dengan proses kerjasama misal dalam menentukan konsep seringkali menghasilkan solusi cerdas yang hampir tidak mungkin terpikirkan jika berupaya memecahkannya sendiri. Seperti yang diungkapkan maxwell (2003) bahwa keterampilan berfikir dan berbagi fikiran (shared thinking) dengan orang lain akan memberikan kita berbagai masukan yang diperlukan untuk mendapatkan hasil Yang lebih baik.

Menurut data TIMSS 2003 menunjukkan bahwa prestasi siswa Indonesia (Rata-rata: 411) agak jauh di bawah Malaysia (Rata-rata: 508) dan Singapura (Rata-rata: 605). Skala Matematika TIMSS – Benchmark Internasional menunjukkan bahwa siswa Indonesia berada pada skala rendah (peringkat bawah), Malaysia pada skala antara menengah dan tinggi (di peringkat tengah), dan Singapura berada pada skala lanjut (peringkat atas).
Namun siswa Indonesia (169 jam di Kelas 8) lebih banyak menggunakan waktu dibandingkan siswa Malaysia (120 jam di Kelas 8) dan Singapura (112 jam di Kelas 8).
proses pembelajaran di kelas kurang meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (high order thinking skills) dan kurang berkait langsung dengan kehidupan nyata sehari-hari (kurang penerapan, kurang membumi, kurang realistik, ataupun kurang kontekstual). Hal ini ditandai dengan: Data TIMSS 2003 (lihat makalah Leung dari Puji) yang menunjukkan bahwa penekanan pembelajaran di Indonesia lebih banyak pada penguasaan keterampilan dasar (basic skills), namun sedikit atau sama sekali tidak ada penekanan untuk penerapan matematika dalam konteks kehidupan sehari-hari,
berkomunikasi secara matematis, dan bernalar secara matematis Pendapat Ashari, wakil Himpunan Matematikawan Indonesia (HMI atau IndoMS) yang menyatakan karakteristik pembelajaran matematika saat ini adalah lebih mengacu pada tujuan jangka pendek (lulus ujian sekolah, kabupaten/kota, atau nasional), materi kurang membumi, lebih fokus pada kemampuan prosedural, komunikasi satu arah, pengaturan ruang kelas monoton, low order thinking skills, bergantung kepada buku paket, lebih dominan soal rutin, dan pertanyaan tingkat rendah. Hasil Video Study yang saat ini sedang berlangsung menunjukkan juga bahwa: ceramah merupakan metode yang paling banyak digunakan selama mengajar, waktu yang digunakan siswa untuk problem solving 32% dari seluruh waktu di kelas, guru lebih banyak berbicara dibandingkan dengan siswa, hampir semua guru memberikan soal rutin dan kurang menantang, kebanyakan guru sangat bergantung dan sangat mempercayai buku teks yang mereka pakai, dan sebagian besar guru belum menguasai keterampilan bertanya. Dengan di latar belangkangi masalah di atas, yaitu rendahnya prestasi siswa di Indonesia dikarenakan paradigma pemikiran yang sempit, apalagi dalam pelajaran matematika, dengan pemodelan belajar yang inovatif, akan mempersiapkan siswa menjadi pribadi yang utuh, yang tidak hanya cerdas dalam aspek kognitif saja, melainkan di berbagai aspek lainnya.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalahnya adalah:
Meningkatkan kemampuan belajar matematika siswa dengan pembelajaran yang evolusioner.

1.3 Tujuan Penulisan
1) Meningkatkan kemampuan belajar matematika siswa dengan menggunakan pembelajaran evolusioner
2) untuk mempersiapkan anak didik agar mampu menghadapi tantangan di masanya kelak
3) mengembangkan aspek estetika dan kesenian, emosi dan sosial. Intelektual, fisik dan kesehatan, juga tanggung jawab sosial.

1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat yang diharapkan dari penulisan ini adalah sebagai berikut:
1) Dengan adanya penelitian ini diharapkan guru dapat memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran matematika
2) Siswa semakin termotivasi untuk belajar karena partisipasi aktif dalam proses pembelajaran dan suasana pembelajaran semakin variatif dan tidak monoton
3) Dapat memberikan masukan yang berarti/bermakna pada sekolah dalam rangka perbaikan atau peningkatan pembelajaran
4) Mendidik para siswa untuk berpikir secara holistik-yang mencakup intusi, konteks, kreativitas, dan aspek fisik.
5) Memberikan lingkungan pembelajaran yang kondusif karena pembelajaran adalah sebuah proses yang aktif, termotivasi dari dalam, mendukung, dan menggairahkan spirit manusia.
6) Membantu mengembangkan potensi individu dalam suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan menggairahkan, demoktaris dan humanis melalui pengalaman dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Proses Belajar Manusia Menurut Perspektif Evolusioner
Psikologi evolusioner tidak memiliki implikasi untuk teknik pengajaran spesifik, tetapi memiliki implikasi untuk kurikulum pendidikan secara umum. Psikolog evolusioner akan setuju dengan Thorndike dan Piaget, bahwa anak seharusnya diajari hal-hal ketika mereka sudah siap untuk mempelajarinya, namun mereka mungkin menekankan jenis belajar yang berbeda dengan yang dikaji Thorndike dan teoritis lainnya. Misalnya, psikolog evolusioner menujukkan bahwa manusia memiliki kecenderungan unutk mementingkan diri sendiri, xenophobia dan agresi. Disposisi semacam itu akan muncul kecuali faktor kultural bisa menghambatnya. Ini berarti bahwa kurikulum dan aktivitas sekolah, bersama dengan pengaruh kultural lainnya, seperti praktik pengasuh anak, harus disusun sedemikian rupa sehingga bisa melemahkan tendesi alamiah itu. Selama masyarakat menghargai perilaku kerjasama, toleransi perbedaan etnis dan agama, dan non-agresi, maka mereka harus mengerahkan sumber dayanya untuk menghindari atau menghambat kecenderungan sikap mementingkan diri sendiri, prasangka, dan sikap agresif. Dengan kata lain, anak dan remaja perlu diajari bertindak dengan cara yang bertentangan dengan predisposisi natural ini.
Di lain pihak, psikolog evolusioner juga percaya bahwa manusia secara biologis siap untuk belajar hal-hal yang dinilai positif oleh suatu kultur. Misalnya, karena manusia cenderung bisa menguasai bahasa, maka sekolah harus menekankan pada belajar bilingual di tahap awal pendidikan.
Psikolog evolusioner mengingatkan pendidik untuk menghindari ”nothing-butism”, yakni asumsi bahwa perilaku ditentukan oleh gen atau kultur saja. Menurut mereka, perilaku manusia selalu merupakan fungsi dari keduanya. Realisasi ini mungkin secara khusus penting ketika menghadapi problem perilaku seperti prasangka atau agresi. Psikologi evolusioner tidak menawarkan solusi khusus untuk problem ini, namun psikologi ini menujukkan alasan mengapa hal ini terjadi. Barash (1979) mengingatkan: ”jelas ada banyak ketidakadilan dan adalah hak dan kewajiban kita untuk menunjukkannya ketika kita melihatnya, dan berusaha melakukan perbaikan.

2.2 Implikasi Teori Belajar Manusia Menurut Perspektif Psikologi Evolusioner.

Pembelajaran evolusioner
Einsten dan Russel (dikutip dalam Montori, 1993) menyatakan bahwa ada 2 (dua) pendekatan pembelajaran yang dapat mengubah cara berpikir, yaitu pembelajaran transformative (transformative learning) dan pembelajaran evolusioner (evolutionary learning). Kedua pendekatan ini merupakan proses berkesinambungan yang sesuai dengan spirit zaman. Pembelajaran transformative berkaitan dengan pengembangan internal, yang dikarakterisasi dengan ekspansi kesadaran individu dan kesadaran kolektif yang dilakukan melalui transformasi cara pandang dan pengenbangan kapasitas diri. Sedangkan pembelajaran evolusioner diarahkan pada transformasi eksternal melalui desain partisipatif sistem sosial secara berkelanjutan. Pada prinsipnya keduanya sama, yaitu menyiapkan perubahan atau melakukan tranformasi.
Pendekatan pembelajaran ini menyiapkan, dalam arti meningkatkan kompetensi dan kesadaran individu dan masyarakat, agar mampu mengantisipasi dan mengatasi ketidakpastian, mengelola perubahan atau bahkan ikut berpatisipasi dalam proses evolusi untuk menciptakan kebaharuan. Pendekatan ini juga membantu menyingkirkan asumsi lama dan menciptakan perspektif baru, sehingga memungkinkan kita untuk merancang kembali dan mentransformasikan sistem sosial secara kreatif ke tataran kompleksitas yang lebih tinggi. Dengan kata lain, pendekatan ini menyiapkan kita agar mampu menjaga keberlangsungan keberadaan kita di dalam kondisi di batas chaos yang merupakan ciri dari zaman kita saat ini dan saat mendatang. Ada beberapa karakteristik pembelajaran evolusioner ( tranformatif dan revolusioner) yaitu:

1) Memanfaatkan umpan balik positif

2) Memperbesar penyimpangan (deviation) dengan maksud mendorong terjadinya perubahan pada tataran sistem. Berbeda dengan kondisi pendidikan sekarang yang mengacu pada umpan balik negatif yaitu deviasi diupayakan terjadi sekecil mungkin demi menjaga stabilitas sistem. Kesalahan bukan sesuatu yang dihindari, tapi marilah kita melihat kesalahan sebagai umpan balik dalam sistem pembelajaran yang menawarkan peluang untuk terus belajar. Bukankah ini ada dalam teori industri.

3) Menekankan perubahan arah dan inovasi.

4) Memanfaatkan potensi kreatif kita untuk pengembangan alternatif citra masa depan, mengevaluasi alternatif dan mengimplementasikan desain baru.

5) Mengacu pada model pertumbuhan morfogenetik.
Model pertumbuhan ini membuka peluang untuk berubah dan menghasilkan variasi-variasi baru dari wacana dan persfektif. tidak sama dengan model pendidikan newtonian dengan model homeorhetic yang hanya mengijinkan adanya proses seleksi dan kombinasi di dalam sistem nilai tertentu. Jadi jangan takut untuk berubah dan berfikir beda.

6) Mengedepankan pembelajaran Holisme.
Holisme menawarkan banyak alternatif dibanding reduksionisme, model ini membawa kita kedalam konteks pembelajaran yang lebih luas, kaya akan alternatif bahkan dapat menghasilkan perubahan. Holisme mengajarkan bahwa kebenaran bersifat kontextual, mencegah terjebak dalam keyakinan yang absolut yang biasanya mengajak kita pada fanatisme yang kuat. Dengan maksud memahami keyakinan pihak lain dan senantiasa melakukan refleksi terhadap diri sendiri akan membuahkan kerjasama yang dibutuhkan untuk membawa semesta ketataran yang lebih kompleksitas dan menawarkan berbagai kemungkinan. Holisme membuka kesempatan kita untuk memanfaatkan potensi internal kita.

Prinsip-prinsip pendidikan holistik

Untuk mencapai tujuan membangun manusia holistik, kita perlu memakai konsep pendidikan holistik seperti yang dicetuskan dalam kesepakatan Education 2000: A Holistic Perspectiv. Intisari kesepakatan tersebut adalah bagaimana sistem pendidikan dapat:
1) Mengajarkan para siswa kesadaran penuh bahwa setiap aspek dalam kehidupan saling terkait, sehingga mereka dapat menjalani kehidupan dengan produktif, damai, dan berkelanjutan, karena setiap tindakan individu akan berdampak pada lingkungannya.
2) Mendidik para siswa seluruh aspek dimensi manusia.
3) Menghargai bahwa setiap manusia mempunyai kelebihan masing-masing sehingga tidak bisa disamakan.
4) Mendidik para siswa untuk berpikir secara holistik-yang mencakup intuisi, konteks, kreativitas, dan aspek fisik.
5) Memberikan lingkungan pembelajaran yang kondusif karena pembelajaran adalah sebuah proses yang aktif, termotivasi dari dalam, mendukung, dan menggairahkan spirit manusia.
6) Menggunakan kurikulum holistik (interdisclipnary) yang mengeintegrasikan komunitas dengan perspektif global.

Dalam pendidikan holistik guru harus siap karena memerlukan pelbagai metodologi, seperti brain active learning, concert learning, contextual learning, tahapan perkembangan mental, dan moral anak.

Pembelajaran holistik (holistic learning) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pemahaman informasi dan mengkaitkannya dengan topik-topik lain sehingga terbangun kerangka pengetahuan. Dalam pembelajaran holistik, diterapkan prinsip bahwa siswa akan belajar lebih efektif jika semua aspek pribadinya (pikiran, tubuh dan jiwa) dilibatkan dalam pengalaman siswa.
Pembelajaran holistik dapat dilaksanakan dengan 2 macam metode:
• Belajar melalui keseluruhan bagian otak: Bahan palajaran dipelajari dengan melibatkan sebanyak mungkin indera; juga melibatkan berbagai tingkatan keterlibatan, yaitu: indera, emosional, dan intelektual.
• Belajar melalui kecerdasan majemuk (multiple intelligences): Siswa mempelajari materi pelajaran dengan menggunakan jenis kecerdasan yang paling menonjol dalam dirnya.
Ada beberapa teknik pembelajaran holistik:
• Mengajukan pertanyaan: Siswa menanyakan beberapa hal seperti: [1] Apa yang sedang dipelajari? [2] Apa hubungannya dengan topik-topik lain dalam bab yang sama? [3] Apa hubungannya dengan topik-topik lain dalam mata pelajaran yang sama? [4] Adakah hubungannya dengan topik-topik dalam mata pelajaran lain? [5] Adakah hubungannya dengan sesuatu dalam kehidupan sehari-hari?

• Memvisualkan informasi: Guru mengajak siswa untuk menyajikan informasi dalam bentuk gambar, diagram, atau sketsa. Objek atau situasi yang terkait dengan informasi disajikan dalam gambar; sedangkan hubungan informasi itu dengan topik-topik lain dinyatakan dengan diagram. Gambar atau diagram tidak harus indah atau tepat, yang penting bisa mewakili apa yang dibayangkan oleh siswa. Jadi gambar atau diagram dapat berupa sketsa atau coretan kasar. Setelah siswa memvisualkan informasi, mereka dapat diminta menerangkan maksud gambar, diagram, atau sketsa yang dibuatnya.

• Merasakan informasi: Jika informasi tidak dapat atau sukar divisualkan, siswa dapat menangkapnya dengan menggunakan indera lainnya. Misalnya dengan meraba, mengecap, membau, mendengar, atau memperagakan.
Pendidikan holistik merupakan suatu filsafat pendidikan yang berangkat dari pemikiran bahwa pada dasarnya seorang individu dapat menemukan identitas, makna dan tujuan hidup melalui hubungannya dengan masyarakat, lingkungan alam, dan nilai-nilai spiritual. Secara historis, pendidikan holistik sebetulnya bukan hal yang baru. Beberapa tokoh klasik perintis pendidikan holistik, diantaranya : Jean Rousseau, Ralph Waldo Emerson, Henry Thoreau, Bronson Alcott, Johann Pestalozzi, Friedrich Froebel dan Francisco Ferrer. Berikutnya, kita mencatat beberapa tokoh lainnya yang dianggap sebagai pendukung pendidikan holistik, adalah : Rudolf Steiner, Maria Montessori, Francis Parker, John Dewey, John Caldwell Holt, George Dennison Kieran Egan, Howard Gardner, Jiddu Krishnamurti, Carl Jung, Abraham Maslow, Carl Rogers, Paul Goodman, Ivan Illich, dan Paulo Freire.
Pemikiran dan gagasan inti dari para perintis pendidikan holistik sempat tenggelam sampai dengan terjadinya loncatan paradigma kultural pada tahun 1960-an. Memasuki tahun 1970-an mulai ada gerakan untuk menggali kembali gagasan dari kalangan penganut aliran holistik. Kemajuan yang signifikan terjadi ketika dilaksanakan konferensi pertama pendidikan Holistik Nasional yang diselenggarakan oleh Universitas California pada bulan Juli 1979, dengan menghadirkan The Mandala Society dan The National Center for the Exploration of Human Potential. Enam tahun kemudian, para penganut pendidikan holistik mulai memperkenalkan tentang dasar pendidikan holistik dengan sebutan 3 R’s, akronim dari relationship, responsibility dan reverence. Berbeda dengan pendidikan pada umumnya, dasar pendidikan 3 R’s ini lebih diartikan sebagai writing, reading dan arithmetic atau di Indonesia dikenal dengan sebutan calistung (membaca, menulis dan berhitung).
Tujuan pendidikan holistik adalah membantu mengembangkan potensi individu dalam suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan menggairahkan, demoktaris dan humanis melalui pengalaman dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Melalui pendidikan holistik, peserta didik diharapkan dapat menjadi dirinya sendiri (learning to be). Dalam arti dapat memperoleh kebebasan psikologis, mengambil keputusan yang baik, belajar melalui cara yang sesuai dengan dirinya, memperoleh kecakapan sosial, serta dapat mengembangkan karakter dan emosionalnya (Basil Bernstein).
Jika merujuk pada pemikiran Abraham Maslow, maka pendidikan harus dapat mengantarkan peserta didik untuk memperoleh aktualisasi diri (self-actualization) yang ditandai dengan adanya: (1) kesadaran; (2) kejujuran; (3) kebebasan atau kemandirian; dan (4) kepercayaan.
Dalam pendidikan holistik, peran dan otoritas guru untuk memimpin dan mengontrol kegiatan pembelajaran hanya sedikit dan guru lebih banyak berperan sebagai sahabat, mentor, dan fasilitator. Forbes (1996) mengibaratkan peran guru seperti seorang teman dalam perjalanan yang telah berpengalaman dan menyenangkan.
Sekolah hendaknya menjadi tempat peserta didik dan guru bekerja guna mencapai tujuan yang saling menguntungkan. Komunikasi yang terbuka dan jujur sangat penting, perbedaan individu dihargai dan kerjasama lebih utama dari pada kompetisi.
Gagasan pendidikan holistik telah mendorong terbentuknya model-model pendidikan alternatif, yang mungkin dalam penyelenggaraannya sangat jauh berbeda dengan pendidikan pada umumnya, salah satunya adalah homeschooling>, yang saat ini sedang berkembang, termasuk di Indonesia.

2.3 Aplikasi Pembelajaran Evolusioner Dalam Pembelajaran Matematika
Aplikasi pembelajaran evolusioner dalam pembelajaran matematika dapat kita lihat dari persoalan di bawah ini

Perhatikan gambar di atas!
Apa yang kamu pikirkan tentang bentuk tralis jendela pada gambar di atas? Segiempat pada tralis jendela gambar tersebut sebagai bangun jajargenjang. Semua jajargenjang itu mempunyai bentuk dan besar yang sama. Perhatikan gambar berikut ini dan diskusikan dengan temanmu bagaimana jajargenjang diperoleh dari persegipanjang.

KERJAKANLAH DALAM KELOMPOK

Bahan: Kertas berpetak, pensil, dan gunting.
1) Pada kertas berpetak, gambarlah sebuah jajargenjang.
2) Gunting kertas yang berbentuk bangun jajargenjang tersebut.
3) Gambarlah garis yang mewakili tinggi jajargenjang dan potong sepanjang garis tinggi tersebut sehingga terjadi dua bagian.
4) Gabungkanlah dua bagian tersebut sehingga membentuk sebuah persegipanjang.
Berdiskusilah dengan temanmu untuk menjawab pertanyaan di bawah ini!
1) Bandingkan luas persegipanjang yang terbentuk dengan luas jajargenjang semula! Apa yang kamu peroleh?
2) Apakah tinggi jajargenjang sama dengan panjang salah satu sisi persegipanjang?
3) Apakah alas jajargenjang sama panjang dengan alas persegipanjang?
4) Dengan kata-katamu sendiri, nyatakanlah sebuah rumus untuk menentukan luas dan keliling jajargenjang!

Contoh soal:

panjang = . . . . . . . .
lebar = . . . . . . . .
Luas jajargenjang = Luas persegi panjang
= . . . . . . . . x . . . . . . . .
= . . . . . . . . x . . . . . . . .
= . . . . . . . .x . . . . . . . .

Dari persoalan di atas siswa dapat menemukan sendiri luas jajargenjang dengan berdiskusi dengan temannya.

Luas dan Keliling Jajargenjang

Luas jajargenjang sama dengan hasilkali alas dan tinggi.
Keliling jajargenjang sama dengan dua kali jumlah panjang sisi yang saling berdekatan. Misal jajargenjang mempunyai luas L, alas a, sisi yang berdekatan dengan a adalah b dan tinggi t, maka :
L = a . t
K = 2 (a + b)

persoalan matematika diatas merupakan aplikasi pembelajaran evolusioner dalam matematika, karena disini siswa dituntut untuk mengetahui luas persegi panjang terlebih dahulu sebelum menemukan luas jajargenjang, membutuhkan kerja sama dalam mencari luas jajargenjang dan siswa dituntut untuk berpikir kritis, karena siswa disuruh untuk menyatakan luas jajargenjang melalui kata-kata pemahamannya sendiri jadi siswa tidak diharuskan menghasilkan jawaban yang benar, yang penting siswa bisa meyajikan jawaban dengan jalan pikiran sendiri.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pembelajaran evolusioner adalah pembelajaran yang mengedepankan prinsip kerja sama dalam memecahkan masalah, berpikir kritis, siswa harus siap sebelum memulai belajar seperti mencari luas jajargenjang siswa diharuskan mengerti konsep persegi panjang seperti luas persegi panjang untuk selanjutnya menemukan sendiri rumus mencari luas jajargenjang. Pembelajaran evolusioner sangat mengedepankan pembelajaran holisme dimana pembelajaran holisme ini adalah pembelajaran berdasarkan brain active learning, concert learning, contextual learning, tahapan perkembangan mental, dan moral anak.

3.2 Saran
1. Guru diharapkan mempertimbangkan untuk menerapkan pembelajaran evolusioner agar dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah sehingga hasil belajarnya pun meningkat.
2. Guru perlu meningkatkan kemampuannya agar dapat mengembangkan pembelajaran evolusioner dalam belajar dan pembelajaran didalam kelas.
3. Pihak sekolah beserta masyarakat perlu memberikan dukungan materil dan non materil untuk menunjang keberhasilan proses belajar.

DAFTAR PUSTAKA
Amien, A. Mappatdjantji. 2005. Kemandirian Lokal Konsepsi Pembangunan, Organisasi dan Pendidikan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Hergenhanh, B.R dan Mattwe H. Olson. 2008. Edisi Ketujuh Theories Of Learning Cetakan Ke-1. Jakarta. Kencana Prenada Media Group.

http://anrusmath.files.wordpress.com/2008/07/model-pembelajaran-kooperatif.

http://www.ditnaga-dikti.org/ditnaga/files/PIP/kooperatif.

http://pkab.wordpress.com/2008/04/29/model-belajar-dan-pembelajaran-berorientasi-kompetensi-siswa/

About these ads
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.